Halaman Utama
Di Depan Pintu Sendiri
Pagi itu tak berjalan selancar biasanya. Sha sulit dibangunkan .Sarapan harus pas di lidah, air mandi belum siap. Ada saja yang membuat pagi terasa terburu-buru. Bu Wida segera bergegas mengantar anak-anak berangkat sekolah. Begitu pintu garasi terbuka, ia mendapati sepeda motor berjajar terparkir persis di depan gerbang.
Pagi itu tak berjalan selancar biasanya. Sha sulit dibangunkan .Sarapan harus pas di lidah, air mandi belum siap. Ada saja yang membuat pagi terasa terburu-buru. Bu Wida segera bergegas mengantar anak-anak berangkat sekolah. Begitu pintu garasi terbuka, ia mendapati sepeda motor berjajar terparkir persis di depan gerbang.
"Huh, bikin repot, bikin lambat," gerutunya sambil mendorong sepeda motor itu masuk ke halaman.
"Kenapa, Bu? Kenapa sepedanya dimasukkan ke dalam?" tanya Sha heran.
"Biar mereka tahu, parkir di depan pintu gerbang itu mengganggu pemilik rumah," jawabnya tegas.
Ini bukan pertama kalinya. Hampir setiap hari, saat keluar atau pulang rumah sepeda motor selalu berjajar depan gerbang menghalangi jalan. Bukan ia benci pada penjual sayur di samping rumah, toh itu kemenakan sendiri yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Tapi jika setiap kali keluar-masuk harus memindahkan kendaraan orang lain, lama-lama hati pun tak telaten lagi. Gerutuan kecil tak terhindarkan dari bibirnya.
Sore harinya, suaminya pulang dengan wajah tak kalah hangat. Udara yang panas dan perut yang lapar membuat suasana semakin terasa berat.
"Saya itu sudah siapkan tempat parkir untuk lewat ," ujar Pak Udin dengan nada berapi-api. "Tadi pagi saja saya sudah bilang: Hei, Mbak, saya capek-capek memindahkan sepeda motor, masa kamu parkir begitu saja?"
Bu Wida hanya tersenyum mendengarnya. Ia tahu suaminya juga merasa terganggu, dan hari itu emosi Pak Udin memuncak. Tak lama, Pak Udin pun duduk dan mulai menulis sesuatu di atas kertas. Tulisan itu singkat, namun terasa dalam maknanya. Mah, rasanya tulisan yang saya pesan terlalu kecil, tapi mudah-mudahan tetap terbaca. Untung warnanya merah, jadi semoga tetap terlihat jelas, ujar Pak Udin. Malam itu juga tulisan itu langsung dipasang di depan pintu, tepat di tengah pagar. Harapannya sederhana: tak ada lagi yang memarkir kendaraan di situ.
Namun kenyataannya lain. Pagi-pagi sekali, sepeda motor sudah kembali berjajar di sana.
"Huh..." Pak Udin menghela napas panjang. " Dengan enaknya dia parkir lalu pergi begitu saja. Tiap pagi mau keluar, harus pindahkan sepeda motor dulu. Lama-lama saya juga malas, Mah."
Bu Wida hanya tersenyum lembut, berusaha meredakan suaminya agar tak emosi. Padahal di dalam hati, ia pun mengerti betapa tidak nyamannya.
Malam berikutnya, Pak Udin kembali ke percetakan. Kali ini ia memesan banner yang jauh lebih besar dua lembar. Dipasang di sisi kiri dan kanan gerbang. Sangat mencolok. Orang-orang yang lewat tersenyum membacanya. Tapi tetap saja, ada yang memarkir sepedanya lalu pergi begitu saja, seolah tak melihat tulisan itu. Mungkin ia berpikir rumah terkunci, tak ada siapa-siapa jadi tak akan ada yang keluar.
Karena tak ingin suasana menjadi panas, Bu Wida membuka jendela dan memanggil kemenakannya yang berjualan sayur di dekat situ.
"Le, tolong sampaikan ke orang yang parkir di depan pintu, ya. Nanti Pak Lek mu marah lho," katanya dengan nada lembut.
"Le, tolong sampaikan ke orang yang parkir di depan pintu, ya. Nanti Pak Lek mu marah lho," katanya dengan nada lembut. Kemenakannya justru menjawab dengan nada agak tajam: "Sudah terkenal kok tulisan itu di desa, Bu. Tidak perlu diberitahu lagi." Kemenakannya justru menjawab dengan nada agak tajam: "Sudah terkenal kok tulisan itu di desa, Bu. Tidak perlu diberitahu lagi."
Bu Wida tersenyum getir. "Ya sudah kalau begitu. Hanya saja, jangan sampai Pak Likmu naik pitam nanti." Bu Wida tersenyum getir. "Ya sudah kalau begitu. Hanya saja, jangan sampai Pak Likmu naik pitam nanti."
Bu Wida tersenyum getir. "Ya sudah kalau begitu. Hanya saja, jangan sampai Pak Likmu naik pitam nanti."
Kemudian ia menutup jendela perlahan. Rasanya kemenakannya pun salah paham. Ia kira ini sekadar soal tempat yang sempit. Padahal bukan itu intinya. Bukan soal sepeda nggak boleh untuk parkir. tapi soal motor yang mengganggu. Soal rasa nyaman yang tiap hari harus dipindahkan, tiap pagi harus tertunda, hanya karena seseorang merasa berhak mengambil jalan milik orang lain.